REFLEKSI(pencerminan)
Refleksi
adalah suatu transformasi yang memindahkan tiap titik pada bidang dengan
menggunakan sifat bayangan cermin dari titik-titik yang akan dipindahkan. Jika
sebuah bangun geometri dicerminkan terhadap sebuah garis tertentu, maka bangun
bayangan kongruen dengan bangun semula. Pada transformasi refleksi, jarak titik
pada bangun bayangan ke sumbu cermin sama dengan jarak titik pada bangun semula
ke sumbu cermin.
Cara melukis bayangan dari bangun geometri adalah
seagai berikut :
1. Tentukan
terlebih dahulu sebuah garis yang akan bertindak sebagai sumbu cermin atau sumbu simetri.
2.
Dari tiap titik sudut geometri yang
akan dilukis bayangannya, buatlah garis yang tegak lurus terhadap sumbu cermin.
3.
Lukislah titik-titik sudut bangun
geometri bayangan dengan cara mengukur jarak antara titik sudut bangun geometri
bayangan terhadap sumbu cermin sama dengan jarak titik sudut bangun geometri
semula terhadap sumbu cermin.
4. Hubungkan
titik-titik sudut yang berdekatan sehingga diperoleh bangun geometri bayangan.
Matriks yang bersesuaian
dengan tranformasi geometri
|
Refleksi
|
Rumus
|
Matriks
|
|
Refleksi terhadap sumbu-x
|
|
|
|
Refleksi terhadap sumbu-y
|
|
|
|
Refleksi terhadap garis y=x
|
|
|
|
Refleksi terhadap garis y=-x
|
|
|
|
Refleksi terhadap garis x=k
|
|
|
|
Refleksi terhadap garis y=k
|
|
|
|
Refleksi terhadap titik (p,q)
|
Sama dengan rotasi pusat (p,q)
sejauh 180˚
|
|
|
Refleksi terhadap titik pusat (0,0)
|
|
|
|
Refleksi terhadap garis y=mx,m=tan α
|
![]() |
|
|
Refleksi terhadap garis y=x+k
|
![]() |
|
|
Refleksi terhadap garis y=-x+k
|
![]() |
|
Sifat-sifat
a.
Dua refleksi berturut-turut terhadap sebuah garis merupakan suatu identitas, artinya yang
direfleksikan tidak berpindah.
b.
Pengerjaan dua refleksi terhadap dua
sumbu yang sejajar, menghasilkan translasi (pergeseran) dengan
sifat:
§ Jarak bangun asli dengan bangun hasil sama
dengan dua kali jarak kedua sumbu pencerminan.
§
Arah translasi tegak lurus pada kedua sumbu sejajar, dari sumbu
pertama ke sumbu kedua. Refleksi
terhadap dua sumbu sejajar bersifat tidak komutatip.
c. Pengerjaaan dua refleksi terhadap dua sumbu yang saling tegak
lurus, menghasilkaan rotasi (pemutaran) setengah lingkaran terhadap titik
potong dari kedua sumbu pencerminan. Refleksi terhadap dua sumbu yang saling
tegak lures bersifat komutatif.
d.
Pengerjaan dua refleksi berurutan terhadap dua sumbu yang berpotongan akan
menghasilkan rotasi (perputaran) yang bersifat:
§ Titik potong kedua sumbu pencerminan
merupakan pusat perputaran.
§ Besar sudut perputaran sama dengan dua kali
sudut antara kedua sumbu pencerminan.
§ Arah perputaran sama dengan arah dari sumbu
pertama ke sumbu kedua.
Persamaan
transformasi pada bidang, yaitu
· 1. Persamaaan transformasi terhadap
sumbu X
Misalkan titik P(x,y)
dicerminkan terhadap sumbu X
sehingga diperoleh bayangan titik P’(x’,y’). Persamaan
transformasi terhadap sumbu X ditentukan oleh hubungan:
x’ = x
y’ = -y
Ditulis : P(x,y)
sumbu X P’(x,-y)
·
2. Persamaan
transformasi terhadap sumbu Y
Misalkan titik P(x,y)
dicerminkan terhadap sumbu Y
sehingga diperoleh bayangan titik P’(x’,y’).
Persamaan transformasi terhadap sumbu Y ditentukan oleh hubungan:
x’ = -x
y’ = y
Ditulis : P(x,y)
sumbu Y P’(-x,y)
·
3. Persamaan
transformasi refleksi terhadap garis y =
x
Misalkan titik P(x,y)
dicerminkan terhadap garis y = x sehingga diperoleh bayangan titik P’(x’,y’). Persamaan transformasi
terhadap garis y = x ditentukan oleh hubungan:
x’ = y
y’ = x
Ditulis : P(x,y)
y = x P’(y,x)
4.Persamaan
transformasi refleksi terhadap garis y =
-x
Misalkan titik P(x,y)
dicerminkan terhadap garis y = -x sehingga diperoleh bayangan titik P’(x’,y’). Persamaan transformasi
terhadap garis y = - x ditentukan oleh hubungan:
x’ = -y
y’ = -x
Ditulis : P(x,y)
y = -x P’(-y,-x)
· 5. Persamaan transformasi refleksi
terhadap titik asal O(0,0)
Misalkan titik P(x,y)
dicerminkan terhadap titik asal O(0,0) sehingga diperoleh bayangan titik P’(x’,y’). Persamaan transformasi
terhadap titik asal O(0,0) ditentukan oleh hubungan:
x’ = -x
y’ = -y
Ditulis : P(x,y)
titik asal O P’(-x,-y)
· 6. Persamaan transformasi refleksi
terhadap garis x = h
Misalkan titik P(x,y)
dicerminkan terhadap garis x = h sehingga diperoleh bayangan titik P’(x’,y’). Persamaan transformasi
terhadap garis x = h ditentukan oleh hubungan:
x’ = 2h -x
y’ = y
Ditulis : P(x,y)
x = h P’(2h-x, y)
·
7. Persamaan
transformasi refleksi terhadap garis y =
k
Misalkan titik P(x,y)
dicerminkan terhadap garis y = k sehingga
diperoleh bayangan titik P’(x’,y’).
Persamaan transformasi terhadap garis y =
k ditentukan oleh hubungan:
x’ = x
y’ = 2k-y
Ditulis : P(x,y)
y = k P’(x, 2k-y)
Ketika kita sedang bercermin di belakang cermin tampak
bayangan kita . bayangan itu sama dengan kita baik bentuk maupun besarnya ,
perbedaanya terletakbpada arahnya , yaitu arahnya berlawanan , karena kita dan
bayangan kita saling berhadapan .

Perhatikan gambar 11.11 , garis M dipandang sebagai
cermin .oleh cermin M ini , bayangan dari Δ ABC adalah Δ EFG . dalam matematika
, kia boleh pula mengatakan bahwa oleh
cermin M bayangan dIri Δ EFG adalah ABC . Apabila pencerminan (refleksi) diberi
symbol M , maka pencerminan oleh garis M ditulis Mm.
Dengan pencerminan oleh garis M , bayangan D ABC
adalah EFG , dituliskan dengan notasi Mm : Δ ABC Δ EFG .
Bangun (bentuk) dan besar benda dan bayangannya selalu
sama sehingga benda dan bayangannya dikatakan sama dan sebangun 9kongruen) yang
diberi notasi.
Pada pencerminan Mm (gambar 11.11), D ABC sama dan
sebangun dengan Δ EFG (ditulis D ABC Δ ≡
FG). Bayangan titik B adalah titik f dan B = F. suatu titik yang bayangannya
titik itu sendiri disebut titik tetap (invarian). Jadi titik B tersebut adalah
suatu titik invariant sehingga anda akan mengerti bahwa semua titik pada cermin
merupakan titik-titik invariant.
Jika titik A dan E dihun=bungkan maka garis AE tegak
lurus pada garis m (cermin). Tentukanlah bayangan garis AE terhadap cermin m!
bayangan AD adalah ED dan bayangan ED adalah AD, sehingga bayangan garis AE
adalah garis EA. Padahal garis Ae sama dengan garis EA, maka bayahngan garis AE
adalah garis itu sendiri. Selanjutnya dikatakan bahwa garis AE terhadap pencerminan
dengan garis m merupakan garis tetap (garis invariant), tetapi tidak titik
pertitik.

Gambar 11.12
Pada gambar 11.12, Δ ABC adalah suatu segitiga sama
kaki. Apabila kertas ini yang memuat gambar Δ ABC ini dilipat menurut garis CD,
maka Δ ADC akan tepat menutup Δ BDC. Demikian pula, jika garis CD dipandang
sebagai cermin, maka bayangan Δ ADC adalah Δ BCD dan sebaliknya bayangan Δ BDC
adalah Δ ADC sehingga bayangan Δ ABC adalah Δ BAC sendiri. Demikian pula, jika
Δ ABC digunting melalui sisi-sisinya dan selanjutnya potongan segitiga itu
dibalik dengan diletakkannya A pada B, B pada A serta C tetap pada C, maka
potongan segitiga itu akan tepat menutup segitiga semula. Selanjutnya dikatakan
bahwa bangun Δ ABC sama kakib tersebut mempunyai simetri sumbu atau simetri
cermin atau simetri balik atau simetri lipat. Sedangkan garis yang dipandang
sebagai cermin itu disebut garis simetri atau sumbu simetri.

Gambar 11.13
Pada gambarb 11.13, segiempat abCd adalah suatu belah
ketupat. Anda dapat melipat atau membalik bangun tersebut menurut diagonalnya
dan menunjukkan bahwa belah ketupat mempunyai simetri cermin. Tepatnya
dikatakan bahwa suatu belah ketupat mempunyai simetri cermin. Tepatnya
dikatakan bahwa suatu belah ketupat mempunyai 2sumbu simetri.

Gambar 11.14
Perhatikan gambarv 11.14, pada pencerminan terhadap
garis m, bayangan A adalah A’ dan bayangan A’ adalah A, atau ditulis Mm : A A’.
selanjutnya dapat mengerti bahwa panjang AD = A’D dan garis AA’ tegak lurus
pada garis m.

Gambar 11.15
Pada gambar 11.15, bayangan ruas garis AB adalah a’B
oleh pencerminan terhadap garis m. sehingga AA’ tegak lurus garis m dan
bayangan Δ Abc adalah Δ A’BC. Jadi ˂ABC = < A’BC dan < BAC = < BA’C.

Gambar 11.16
Pada gambar 11.16, bayangan ruas garis PQ oleh
pencerminan terhadap garis n adalah P’Q’.
Mn : PQ → P’Q’
Maka setiap titik pada ruas garis PQ , bayangannya
merupakan titik pada ruas garis
P’Q’.setiap garis yang menghubungkan suatu titik dengan bayangan selalu
tegak lurus pada cermin n , kecuali titik invariannya . jika ruas garis PQ
diperpanjang dan bayangannya , yaitu P’Q’ juga diperpnjang , maka akan
berpotongan pada suatu titik yang terletak pada cermin n.
Contoh :
Titik – titik A dan B terletak pada pihak yang sama
terhadap garis m sedemikian hingga perpanjangan AB memotong garis m di titik T dan susudt yang dibentuk oleh
garis AB dan garis m besarnya 35 derajat .
A’B’ adalah bayangan dari AB oleh pencerminan terhadap
garis m .
a)
Jika AB = 7 cm
dan BT =3 cm berapakahpanjangA’ T danbesar<ATA’ ?
b)
Jikagaris yang
menghubungkan A dan B’ memotonggaris m di titik P,
mengapagarishubungtitik-titik A’ dan B memotonggaris m di titik P pula 1
Jelaskan.
Jawab

a)
Mm : AB A’B’,
maka A’B’ = AB sehingga A’B’ = 7 cm
Mm
; BT B’t, maka B’T = BT sehingga B’T = 3 cm
Jadi
A’T = A’B’ + B’T = 7 cm + 3 cm
A’T
= 10 cm
Mm
: AT → A’T, maka< ATD = < A’TD = 35°.
Jadi<
ATA’ = < ATD + < A’TD = 35° + 35° = 70°
b)
AB’
memotonggaris m di titik P.
Mm : AP → A’P
AB’ → A’B.karena A’B
adalahbayangandari AB’, maka A’B dan AB’ berpotonganpadasuatutitik yang
terletakpadacermin (garis m), yaitutitik P.
Contoh :
Diketahui
sebuah garis I . Titik – titik P dan Q terletak pada pihak yang sama terhadap
garis I . tentukanlah titik R pada garis I sedemikian hingga lintasan dari P ke
Q melalui R merupakan lintasan paling pendek .
Jawab:

Gambar 11.18
Garis
I dipandang sebagai cermin , dan Q’ adalah bayangan titik Q. Selanjutnya
ditarik garis PQ’ yang memotong garis I di titik R . Maka PR + RQ merupakan
lintasan terpendek dari P ke Q melalui sebuah titik pada I yaitu R . Untuk
membuktikan kebenaranyya ditunjukkan berikut ini . diambil sebarang titik M
pada garis I karena Q’ bayangan dari Q dan M
pada cermin I , maka QM = Q’M
Perhatikan
∆ PMQ’ , PQ’ < PM + MQ’ ( panjang sebuah sisi lebih pendek dari jumlah
panjang dua sisi lainnya ) . Karena RQ = RQ’ dan PQ’ = PR + RQ’ , maka
PQ’ = PR + RQ
Sehingga PR +RQ < PM + MQ
Jadi PR + RQ terpendek .

Gambar
11.19
Dalam bidang koordinat cartesius, pencerminan terhadap
sumbu x ditulis Mx , pencerminan terhadap sumbu y ditulis : My
Perhatikan Gambar 11.19
Mx : A (-2 , 3) → A’(-2, -3)
B (4 , 2
) →B’(4 , -2)
C ( 1 ,
1 ) → C (1 , 1)
Mx : ∆ ABC →A’B’C’
Dari contoh ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa
Mx : P (a , b)
→ P’(a , -b)
Jadi pada pencerminan terhadap sumbu x , bayangan
titik P(a , b) adalahP’(a , -b)

Gambar 11.20
Pada gambar 11.20 bayangan jajaran genjang ABCDoleh
pencerminan terhadap sumbu Y adalah jajargenjang A’B’C’D’ atau ditulis
My : □ ABCD → □ A’B’C’D’
Bayangan titik – titik sudutnya adalah sebagai berikut
:
My : A ( -4 , -3) →
A’(4 , -3)
B (-1 ,
-2 ) → B’(1 , -2)
C (-2 , 2) →
C’ (2 , 2)
D ( -5
, 1) → D’( 5 ,1 )
Memperhatikan koordinat suatu titik dan koordinat
bayangannya , kita dapat menarik suatu simpulan bahwa :
My : P(a , b) → P’(-a, b)
Jadi pada pencerminan terhadap sumbu y , bayangan
titik P(a,b) adalah ‘(-a , b).

Gambar 11.22
Perhatikan gambar 11.22. gambar lurus x = h sebagai
cermin dan bayangan titik T (a,b) adalah
T (p,q). kita akan menentukan hubungan koordinat titik T’ dengan koordinat
titik T, yaitu menyatakan p dan q dengan a, b dan h.
P = a + TT
= a + 2
TM
= a +
2(h- a)
= a +
2h – 2a
P = 2h – a
Selanjutnya tampak jelas bahwa q = b
Maka bayangan titik T(a, b) pada pencerminan terhadap
garis x = h adalah T’(2h – a, b)
M : T(a,b) → T’ (2h – a, b)
Dengan cara yang mirip dengan cara tersebut. Anda
dapat menentukan bayangan titik P(a, b) pada pencerminan terhadap garis y = k!
M : P(a,b) → P’(a, 2k – h)
Bayangan titik P(a,b) pada pencerminan terhadap garis
y = k adalah P’(a, 2k – b)

Gambar 11.23
Pada gambar 11.23, garis lurus y = x sebagai cermin.
Pada pencerminan ini, bayangan (peta) dari ∆ ABC adalah ∆ A’B’C’
M : ∆ ABC → ∆ A’B’C’
Bayangan titik-titik sudutnya yang menyertakan
koordinatnya sebagai berikut::
M : A(2, -3)
→ A’(-3, 2)
B(5,-2)
→ B’(-2,5)
C(3,1)
→ C’(1,3)
Memperhatikan koordinat suatu titik dan koordinat
titik bayangannya, kita dapat menarik simpulkan sebagai berikut :
My=x : P(a,b) → P’(b,a)
Pada pencerminan terhadap garis y=x, bayangan dari
titik P(a,b) adalah P’(b,a)
Pada gambar 11.24, garis lurus y = =x sebagai cermin
My=-x ∆
ABC → ∆ A’B’C’
A(2,1)
→ A’(-1,-2)
B(4,3)
→ B’(-3,-4)
C(-2,4)
→ C’(-4, 2)

Gambar 11.24
Dari contoh-contoh ini kita dapat menarik simpulan
sebagai berikut:
My=-x : P(a,b) → P’(-b,-a)
Pada pencerminan terhadap garis y=-x, bayangan titik
P(a,b) adalah titik P’(-b,-a)

Gambar 11.25
Pada
gambar 11.25 terdapat dua cermin, yaitu garis y=2 dan garis y=7 yang sejajar.
Pada perncerminan terhadap garis y=2, bayangan (peta) dari ∆ ABC adalah ∆ A’B’C’. selanjutnya pada pencerminan tergadap
garis y=7, peta (bayangan) dari ∆ A’B’C’ adalah A’’B’’C’’. dua perncerminan
berturutan ini disebut komposisi pencerminan.
My=7
0 My=2 dibaca pencerminan terhadap garis y=2 diteruskan dengan
pencerminan terhadap garis y=7 (awas! Pembacaannya dibalik).
Komposisi pencerminan pada gambar 11.25 dapat dituliskan
My=7
0 My=2 : ∆ ABC → ∆ A’’B’’C’’
Komposisi pencerminan My=2 My=7 memetakan ∆ ABC ke ∆ A’’B’’C’’
Perhatikan gambar 11.25
My=2 : A(-2,3)
→ A’(6,3) My=7 : A’(6,3) → A’’(8,3)
B(1,2)
→ B’(3,1) B’(3,1)
→ B’’(11,1)
C(0,5)
→ C’(4,5) C’(4,5)
→ C’’(10,5)
My=7 0 My=2 : A(-2,3) → A’’(8,3)
B(1,1)
→ B’’(11,1)
C(0,5)
→ C’’(10,5)
Apabila kita perhatikan lagi gambar 11.25, maka ∆
A’’B’’C’’ diperoleh dari ∆ ABC dengan cara melakukan translasi (pergeseran)
dengan
Vector u = (
) yaitu Tu
Tu : A(-2,3) → A’’(-2 + 10,3 + 0) = A’’(8,3)
B(1,1)
→ B’’(1 + 10,1 + 0) = B’(11,1)
C(0,5)
→ C’’(0 + 10,5 + 0) = C’’(10,5)

Gambar 11.26
Selanjutnya kita akan mencari vector translasi pada
pencerminan dengan dua cermin yang sejajar. Pada gambar 11.26, garis-garis m
dan n sebagai cermin.
Mm : P → P’ dan
Mn : P’ → P’’
Mo : P → P’’
Misalkan jarak cermin m dan n adalah h. telah kita
ketahui bahwa Mn 0 Mm sama dengan suatu translasi u
yang arahnya tegak lurus pada cermin.
Translasi u = PP’’ (lihat gambar 11.26)
PP’’ = PP’ + P’P’’
= 2 TP’
+ 2 P’k
= 2
(TP’ + P’K)
PP’’ = 2h
Jadi panjang vector translasi u sama dengan dua
kaki jarak kedua kaki jarak kedua cermin.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut
Jika uraian cermin sejajar m dan n
yang jaraknya h, maka pencerminan terhadap garis m dilanjutkan dengan
pencerminan terhadap garis m dilanjutkan dengan pencerminan terhadap garis n
sama dengan melakukan pergeseran (translasi) dengan vector u yang
panjangnya 2 h da arahnya tegak lururs pada cermin.
Soal – soal !
1. Titik A memiliki koordinat (3, 5). Tentukan
koordinat hasil pencerminan titik A:
a) Terhadap garis x = 10
b) Terhadap garis y = 8
2. Titik A memiliki koordinat (3, 5). Tentukan
koordinat hasil pencerminan titik A:
a) Terhadap garis y = x
b) Terhadap garis y = − x
3.
Segitiga ABC , A(2,-3), B(-5, 2), dan C(5 , 7)
dicerminkan ke sumbu Y, tentukan bayangannya !
4.
Tentukan bayangan aris 5X + 4Y = 7 jika direfleksikan
terhadap garis y = -x !
5.
Titik P(-5 , 7) dicerminkan ke sumbu X . tentukan
bayangannya !



Tidak ada komentar:
Posting Komentar